Setelah sebelumnya saya membahas mengenai data mining dan kegunaannya bagi perusahaan. Sekarang saya akan membahas mengenai salah satu efek data mining, khususnya bagi Customer.

Effect of Data Mining to Customer


Penggunaan data mining tersebut ternyata dapat menjadi ancaman bagi individual privacy. Hal itu dikarenakan kemampuannya untuk menemukan individual pattern dan mengklasifikasikannya berdasarkan kategori-kategori tertentu, yang teryata bisa memperlihatkan informasi-informasi pribadi (confidentional) akan seorang customer.

Sebagai contoh, dari data belanja kita per bulan (misalnya dari struk belanja), perusahaan retail (sebagai contoh Wallmart) mendapatkan informasi akan apa yang kita beli setiap bulannya dan kecenderungan barang yang kita pilih tiap bulannya. Belum lagi jika kita menjadi member, tentunya perusahaan akan menyimpan data-data kita seperti nama dan KTP. Kedua hal tersebut menjadi sedikit mengkhawatirkan, jika barang-barang yang kita beli berhubungan dengan privasi kita, sebagai contoh adalah kondom.

Bukan mustahil ketika anda sedang berbelanja bersama orang tua anda, sang kasir yang tidak anda kenal dan tidak anda temui ketika membeli kondom menawarkan kepada anda promo kondom yang sedang ada bulan itu. Hal tersebut dikarenakan, setelah data pembelian anda dan data pribadi anda diolah melalui Data Mining, hasil output menyatakan bahwa kecenderungan pembelian anda pada bulan tersebut adalah kondom dan saat itu sedang ada promo kondom. Sungguh sebuah hal yang sangat mengganggu privasi kita bukan?

Belum lagi pengelompokkan pattern-pattern tersebut bisa menimbulkan stereotype akan isu-isu negatif jika dikaitkan dengan variable-variable seperti ras, gender, maupun agama. Misalnya saja data mining untuk mengetahui tingkat kepintaran (intelligence) berdasarkan ras (Estivill-Castro, Brankovic, & Dowe, 1999). Walaupun data yang dikumpulkan benar dan algoritma yang digunakan pada data mining juga tanpa cacat, namun hasil pengelompokan tersebut dapat menimbulkan efek negatif karena kita sama saja memilah-milah mana ras dengan tingkat kecerdasan tinggi dan mana ras dengan tingkat kecerdasan rendah.

Less Control to Our Data

Efek negative tersebut ternyata bertambah meresahkan seiring dengan berkurangnya hak pemilik data akan data tersebut. Sebagai contoh ketika seseorang memberikan datanya kepada bank untuk dapat menjadi nasabah bank tersebut, maka data yang diterima bank dari Customer tersebut akan menjadi asset perusahaan. Lalu bagaimana ketika bank tersebut bankrut? Sebagaimana layaknya aset lain yang dimiliki bank, data tersebut dapat dijual oleh bank untuk melunasi hutangnya kepada pihak lain.

Kemudian bagaimana nasib nasabah jika data itu dijual? Sang nasabah pun akhirnya tidak memiliki control apa-apa terhadap data tersebut, apa lagi merubahnya. Bayangkan berapa banyak sales kartu kredit yang akan menelpon kita atau bahkan datang kepada kita, karena data kita diperjual-belikan secara bebas. Privasi kita akan data-data tersebut tentunya akan hilang, karena data tersebut sudah mengalir tidak hanya dalam satu perusahaan tetapi sudah ke perusahaan lain juga.

HalĀ  tersebut bertambah mengkhawatirkan jika kita melihat data penjualan data akhir-akhir ini. Di amerika sendiri hampir 400 juta credit records, 700 juta drug records, 100 juta medical records, dan 600 personal records diperdagangkan tiap tahunnya oleh lebih dari 200 badan superbody. Beberapa record tersebut terdiri dari bank balance, rental histories, pembelian retail, criminal records, unlisted phone number, serta daftar panggilan terakhirnya (Estivill-Castro et al.,1999).

Lalu bagaimana kita dapat melindungi data tersebut, pemerintah sebagai pihak berwajib harusnya dapat membuat undang-undang khusus yang mengatur perdagangan data tersebut. Hal ini lah yang dilakukan pemerintah Amerika, untuk melindungi privasi data pada seluruh penduduknya.

Lalu apa saja undang-undang yang diterbitkan pemerintah AS untuk melindungi warganya? Hal tersebut akan dibahas pada postingan berikutnya..