Cloud Computing, yang sedang berada pada fase awalnya ini, tentunya masih memiliki banyak kekurangan sebelum bisa diterapkan luas untuk menggantikan metode computing yang ada sekarang. Diantara berbagai macam kekurangannya, yang paling banyak membuat perusahaan masih ragu untuk mengadopsi Cloud Computing adalah karena Cloud Computing masih merupakan sebuah teknologi tertutup dimana hanya provider yang mengetahui keseluruhan detail prosesnya. Sebagai contoh adalah multi-tenant nature pada cloud computing, dimana data dan aplikasi yang berjalan dari beberapa perusahaan akan berada di dalam satu mainframe provider. Hal ini tentunya membutuhkan transparansi dari provider kepada user, mengenai mekanisme dan peraturan dalam mengatur proses di mainframe tersebut. Belum lagi mengenai market position yang sangat menguntungkan provider, karena seluruh data user berada di area provider. Hal ini bisa mengakibatkan provider melakukan tekanan kepada user untuk tidak pindah ke provider lain, sebuah hal yang tentunya tidak akan menguntungkan user. Atas dasar itulah dibutuhkan sebuah standar yang mengatur Cloud Computing pada umumnya sehingga ia bisa menjadi terbuka, baik untuk provider maupun user. Standar tersebut adalah Open Cloud Manifesto.

Open Cloud Manifesto ini berisi beberapa poin utama, yakni:

  1. Cloud Provider (provider) harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan cloud ke depan (baik itu dari segi Security, Integration, Portability, Interoperability, Governance / Management, Metering / Monitoring) melalui kolaborasi terbuka (open collaboration) dan penggunaan sebuah standard yang benar secara bersama-sama.
  2. Cloud Provider tidak boleh menggunakan market position mereka untuk mengunci pelanggan mereka (costumer) pada platform yang terbatas dan mengurangi pilihan provider yang akan pelanggan gunakan.
  3. Cloud provider harus menggunakan dan mengadopsi standard yang sudah ada dan masih layak digunakan (sebagai contoh html, xml, dsb). Hal ini dikarenakan industri IT telah berinvestasi sangat besar, sehingga provider tidak perlu menemukan ulang teknologi tersebut.
  4. Saat standard baru atau penyesuaian dari standard yang telah ada dibutuhkan, kita (cloud providers dan costumers) harus bijaksana dan pragmatis dalam menentukan standard tersebut, sehingga kita tidak menciptakan terlalu banyak standard di lingkungan Cloud Computing.
  5. Segala aktivitas komunitas (Open Cloud Supporter) yang berhubungan dengan Open Cloud harus didasarkan atas kebutuhan Costumer, bukan kebutuhan teknis Cloud Provider, dan harus dites terlebih dahulu terhadap kebutuhan Costumer yang sebenarnya.
  6. Organisasi Cloud Computing, Advocacy Group, maupun komunitas harus bekerja sama dan saling berkoordinasi, sehingga segala usaha untuk mengembangkan Cloud tidak menyebabkan konflik.

Open Cloud Manifesto ini dipimpin oleh IBM dan kini sudah memiliki lebih dari 250 perusahaan sebagai supporters, diantaranya adalah Cisco, HP, dan SUN. Namun beberapa nama besar, yakni Amazon, Google, Microsoft, dan salesforce.com, yang merupakan perusahaan terdepan dalam teknologi Cloud Computing menolak menandatangani Manifesto ini. Tentunya hal ini menimbulkan kontoversi terutama bagi para calon pengguna teknologi Cloud, karena mereka tidak mendapat kepastian mengenai poin-poin yang diajukan di dalam Manifesto tersebut.

Steve Martin, Senior Director of Developer Platform Product Management Microsoft, pada tanggal 26 Maret 2009 memberitahu alasan mengapa Microsoft tidak ikut dalam Open Cloud Manifesto tersebut. Ia memperlihatkan versi orisinil dari dokumen tersebut, dan menyatakan bahwa dokumen tersebut lebih seperti sebuah statement of losing sebuah perusahaan. Belum lagi perusahaannya (Microsoft) hanya diperbolehkan untuk menandatangi dokumen tersebut tanpa merubah isinya. Hal tersebut menambah keraguan Microsoft untuk ikut serta dalam manifesto ini.

Namun hal ini ditolak oleh Reuven Cohen, founder dari Enomaly (sebuah perusahaan yang menawarkan jasa Cloud) dan juga salah seorang penyusun manifesto tersebut. Ia menyatakan bahwa manifesto ini hanya bertujuan untuk menciptakan sebuah standard, sehingga user bisa berpindah dari cloud yang satu ke cloud yang lain dengan mudah, tanpa ada maksud lain.